Lingkungan sosial memang salah satu sumber pembelajaran buat
diri, ya kan? Menurutku aja sih itu, terserah mau percaya atau engga. Kenapa aku
ngomong gitu...karena sejauh ini aku banyak belajar dari lingkungan sosialku.
Seperti setiap manusia yang berbeda-beda dan berkumpul dalam suatu populasi,
serta melakukan interaksi sosial. Ya, dari situ aku belajar. Kalau tidak salah (ya,
berarti benar) salah satu sifat komunikasi irreversible
itu memang terjadi adanya. Setiap perkataan yang keluar dari mulut manusia—baik
sengaja maupun tidak, baik bercanda maupun tidak—itu semua bisa menimbulkan
dampak dari yang menerima perkataan tersebut. Hmm, sebenernya bukan mau
ngajarin tentang komunikasi sih hehehe. Cuma mau bercerita aja tentang kondisi
lingkungan sosialku yang kuingat dan punya tambahan pemahaman untuk diriku
sendiri.
Aku ngaku, aku ini baper-an ternyata. Hal itu aku sadari
karena aku sempat menjadi bahan lelucon oleh lingkungan sosialku. Ya, rasanya
aku tak perlu menceritakan bagaimana kondisi lingkunganku ini karena aku hanya
menilai dari sudut pandangku aja. Okey. Ya. Aku memang seorang yang senang
bercanda, suka sama situasi yang tidak kaku (tapi, sejauh ini tulisan elu kek
kaku gitu bahasanya jedot). Yap, aku suka ngelawak gak jelas lah ya sama
lingkungan sosialku ini. Namun, beberapa kali aku temukan dari lingkunganku yang
senang bercanda...mereka sering menggunakan hal-hal yang sebenarnya dapat
melukai hati. Bingung ya? Emang kok aku selain senang bercanda, juga senang
buat orang bingung hahaha. Hal-hal itu seperti berkaitan dengan fisik dan
sesuatu yang menempel pada diri(ku).
Kenapa ya? Dua hal itu bisa jadi hal yang patut untuk
ditertawakan? Padahal, itu bukan hal yang lucu. Hanya mereka yang mengemas itu
menjadi lucu. Tapi mereka mikir gak ya kalo dampaknya bisa buat orang lain
sakit hati? Kayak misalnya aku sedang memakai dress yang panjangnya sampai
betis, lalu hal tersebut mereka kemas jadi sesuatu yang lucu seperti “Bajunya
kayak baju ibu-ibu aji.”, “Bajunya sama gayanya pas lah ya kayak ibu-ibu tukang
daging.” Ya, bagi mereka mungkin itu hal yang lucu. Tapi mereka gak tau dress
yang kupakai itu milik peninggalan Almarhum Nenekku. Mereka tertawa dengan
puas, aku hanya pura-pura tertawa agar tidak ada yang panas.
Satu lagi, sebenarnya ini sebagai bentuk keseluruhan dari
apa yang sudah kualami. Kamu tau lah, bagi perempuan fisik itu merupakan hal
yang sensitif untuk menjadi bahan perbincangan. Yap, kebetulan aku perempuan
yang sering kali fisikku mereka cela. Telingaku sudah terbiasa sejak SD saat
mereka memandang fisikku ini sebagai bahan lelucon mereka. Namun, hatiku sering
kali berontak. Hatiku ingin marah tiap kali mereka menjadikan fisikku sebagai
lelucon mereka. Lalu, apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Aku masih saja
terperangkap dalam situasi lingkungan sosialku ini. Rasanya menyebalkan, ya,
memang menyebalkan.
Temen-temen, aku ingin sedikit cerita ke kalian. Isi hatiku
selama ini. Maaf, kalau fisikku ada salah. Maaf, kalau apa yang aku pakai
membuat kalian menjadi berdosa. Aku hanya tau kalau seseorang yang punya selera
humor yang baik, mereka punya cara yang baik pula untuk membuat lelucon tanpa
menyakiti hati siapa pun. Maaf, kalau aku pun pernah melukai hati kalian
melalui leluconku. Itu hanya sebagai bentuk pembelaanku terhadap apa yang
pernah kalian lakukan padaku. Karena kusadari, pada dasarnya aku butuh orang
lain untuk membelaku. Tetapi, sepertinya suatu populasi membentuk kalian
menjadi seseorang yang sama. Sama-sama senang menilai fisik dan sesuatu yang
menempel pada diri sebagai hal yang bisa dijadikan bahan lelucon. Hingga akhirnya,
aku lah satu-satunya yang bisa membela diriku sendiri.
Temen-temen, aku percaya kalian punya selera humor yang
baik. Maka, pergunakanlah selera humor kalian dengan cara yang baik pula. Menurutku,
dua hal itu bukan termasuk hal yang patut untuk ditertawakan. Mungkin, kalian
bisa menggunakan pilihan lain ketika sedang membangkitkan suasana humor di
populasi kalian. Misalnya, mengangkat pembahasan yang ringan seperti upil atau
kentut gitu? Ya, aku rasa kalian bisa tanpa perlu dijelaskan. Hehe. Udah atuh
lah, jangan kaku, nanti beku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar