Minggu, 17 Desember 2017

Jadi Humoris Tidak Mudah

Lingkungan sosial memang salah satu sumber pembelajaran buat diri, ya kan? Menurutku aja sih itu, terserah mau percaya atau engga. Kenapa aku ngomong gitu...karena sejauh ini aku banyak belajar dari lingkungan sosialku. Seperti setiap manusia yang berbeda-beda dan berkumpul dalam suatu populasi, serta melakukan interaksi sosial. Ya, dari situ aku belajar. Kalau tidak salah (ya, berarti benar) salah satu sifat komunikasi irreversible itu memang terjadi adanya. Setiap perkataan yang keluar dari mulut manusia—baik sengaja maupun tidak, baik bercanda maupun tidak—itu semua bisa menimbulkan dampak dari yang menerima perkataan tersebut. Hmm, sebenernya bukan mau ngajarin tentang komunikasi sih hehehe. Cuma mau bercerita aja tentang kondisi lingkungan sosialku yang kuingat dan punya tambahan pemahaman untuk diriku sendiri.

Aku ngaku, aku ini baper-an ternyata. Hal itu aku sadari karena aku sempat menjadi bahan lelucon oleh lingkungan sosialku. Ya, rasanya aku tak perlu menceritakan bagaimana kondisi lingkunganku ini karena aku hanya menilai dari sudut pandangku aja. Okey. Ya. Aku memang seorang yang senang bercanda, suka sama situasi yang tidak kaku (tapi, sejauh ini tulisan elu kek kaku gitu bahasanya jedot). Yap, aku suka ngelawak gak jelas lah ya sama lingkungan sosialku ini. Namun, beberapa kali aku temukan dari lingkunganku yang senang bercanda...mereka sering menggunakan hal-hal yang sebenarnya dapat melukai hati. Bingung ya? Emang kok aku selain senang bercanda, juga senang buat orang bingung hahaha. Hal-hal itu seperti berkaitan dengan fisik dan sesuatu yang menempel pada diri(ku).

Kenapa ya? Dua hal itu bisa jadi hal yang patut untuk ditertawakan? Padahal, itu bukan hal yang lucu. Hanya mereka yang mengemas itu menjadi lucu. Tapi mereka mikir gak ya kalo dampaknya bisa buat orang lain sakit hati? Kayak misalnya aku sedang memakai dress yang panjangnya sampai betis, lalu hal tersebut mereka kemas jadi sesuatu yang lucu seperti “Bajunya kayak baju ibu-ibu aji.”, “Bajunya sama gayanya pas lah ya kayak ibu-ibu tukang daging.” Ya, bagi mereka mungkin itu hal yang lucu. Tapi mereka gak tau dress yang kupakai itu milik peninggalan Almarhum Nenekku. Mereka tertawa dengan puas, aku hanya pura-pura tertawa agar tidak ada yang panas.

Satu lagi, sebenarnya ini sebagai bentuk keseluruhan dari apa yang sudah kualami. Kamu tau lah, bagi perempuan fisik itu merupakan hal yang sensitif untuk menjadi bahan perbincangan. Yap, kebetulan aku perempuan yang sering kali fisikku mereka cela. Telingaku sudah terbiasa sejak SD saat mereka memandang fisikku ini sebagai bahan lelucon mereka. Namun, hatiku sering kali berontak. Hatiku ingin marah tiap kali mereka menjadikan fisikku sebagai lelucon mereka. Lalu, apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Aku masih saja terperangkap dalam situasi lingkungan sosialku ini. Rasanya menyebalkan, ya, memang menyebalkan.

Temen-temen, aku ingin sedikit cerita ke kalian. Isi hatiku selama ini. Maaf, kalau fisikku ada salah. Maaf, kalau apa yang aku pakai membuat kalian menjadi berdosa. Aku hanya tau kalau seseorang yang punya selera humor yang baik, mereka punya cara yang baik pula untuk membuat lelucon tanpa menyakiti hati siapa pun. Maaf, kalau aku pun pernah melukai hati kalian melalui leluconku. Itu hanya sebagai bentuk pembelaanku terhadap apa yang pernah kalian lakukan padaku. Karena kusadari, pada dasarnya aku butuh orang lain untuk membelaku. Tetapi, sepertinya suatu populasi membentuk kalian menjadi seseorang yang sama. Sama-sama senang menilai fisik dan sesuatu yang menempel pada diri sebagai hal yang bisa dijadikan bahan lelucon. Hingga akhirnya, aku lah satu-satunya yang bisa membela diriku sendiri.


Temen-temen, aku percaya kalian punya selera humor yang baik. Maka, pergunakanlah selera humor kalian dengan cara yang baik pula. Menurutku, dua hal itu bukan termasuk hal yang patut untuk ditertawakan. Mungkin, kalian bisa menggunakan pilihan lain ketika sedang membangkitkan suasana humor di populasi kalian. Misalnya, mengangkat pembahasan yang ringan seperti upil atau kentut gitu? Ya, aku rasa kalian bisa tanpa perlu dijelaskan. Hehe. Udah atuh lah, jangan kaku, nanti beku.

Sabtu, 02 Desember 2017

Dariku yang Hatinya Mudah Rapuh

Hehehehe, aku merasa dibodoh-bodohi. Jangan sampai bodoh oleh hati yang mudah rapuh, tapi otak yang berusaha tangguh. Memangnya kamu pikir aku akan mudah gitu saja luluh? Atau mungkin kamu pikir aku akan cemburu? Memangnya kamu siapa temanku? Aku bukan orang yang mudah luluh oleh karena perkataanmu. Ingat. Meskipun hatiku yang rapuh ini mudah luluh, tapi aku masih otak yang tangguh. Jangan salah, sekali dua kali, usahamu yang setengah-setengah itu, tidak bisa buatku begitu saja percaya dengan kalimatmu yang membuatku terkejut waktu itu.

Sekarang apa? Apa maksudmu? Aku tahu, setengah, bukan. Secuil tentangmu yang membuatku tambah ragu, apa maksudmu sebenarnya? Apa yang kamu mau tunjukkan padaku? Pada sahabatku? Kamu merasa hebat bisa menaklukan perempuan? Tidak. Tidak semua perempuan itu sama. Jangan samakan aku dengan perempuan yang pernah menjadi tujuan permainanmu. Aku tidak sama dengan mereka. Aku punya caraku sendiri. Caraku yang tidak hanya mengandalkan hati dalam menghadapi hal itu. Kalau kamu merasa berhasil meruntuhkan hatiku, jangan senang dulu, temui otakku yang tangguh ini. baru boleh kamu berbangga hati.

Pengalamanku tentang hal itu memang bukan berasal dariku sendiri. Aku pun belum memiliki pengalaman sendiri. Namun teman-temanku mengajarkanku melalui pengalaman mereka. Setidaknya aku tidak naif tentang hal itu. Aku masih bisa mengetahui mana yang sungguh-sungguh, mana yang punya tujuan tertentu. Percayalah teman, hatimu hanya sedang sedih. Hiburlah, tapi jangan melibatkan hati orang lain. Hati mereka tak bersalah, hatimu pun tidak bersalah. Kasih ia istirahat. Kasih hatimu ruang sendiri. Percayalah kawan, hati dan perasaannya tidak harus selalu diisi dengan hal itu. Terkadang hati juga ingin menikmati kesendiriannya. Nikmatilah kebebasan itu, untukmu dan juga hatimu. Segalanya indah, jika kamu dan hatimu bisa menerima keindahan itu.


Dari aku, temanmu.

**hal itu, aku rasa kamu tau apa itu.