Sakit stroke hemoragik Valiant Budi, tak membuatnya
berhenti menulis. Selama masa pemulihan, menulis dijadikannya medium untuk
melampiaskan frustasinya itu. Sempat terbesit dalam hati bahwa kariernya akan
selesai, tapi nyatanya ia malah berhasil menerbitkan buku novel yang berjudul Forgotten Colors ini. Forgotten Colors memang bukan novel yang
diangkat dari kisah nyata, tapi Vabyo (sapaan akrab Valiant Budi) menghadirkan
dirinya sebagai tokoh di dalam novel ini. Melalui novel ini, penulis memiliki
keyakinan dan harapan untuk mengingat kembali dirinya juga beragam kenangan
yang ia coba untuk mengingatnya.
Pahit-manisnya
kenangan manusia, tetap menjadi sebuah bagian dari perjalanan hidup manusia.
Setiap kenangan yang ada (baik manis, maupun pahit), perlu diingat sebagai
tanda jati diri. Namun, beda bagi setiap orang yang sempat tanpa sengaja lupa
akan kenangan mereka. Salah satunya adalah Arka, ia mengalami stroke yang
menyerang otak kiri dan membuatnya lupa akan kenangan yang ia miliki. Selama
masa pemulihan, ia tak diam saja. Arka tetap berusaha untuk mengingat kenangan,
tapi ia malah dihantui oleh mimpi-mimpi aneh bahkan sampai halusinasi.
Arka
tidak sendirian ketika ia berusaha untuk menemukan kembali ingatan-ingatan yang
sempat terlupakan olehnya. Bersama kekasihnya, Gelia, mereka bersama-sama untuk
menemykan kenangan yang sempat terlupakan oleh Arka. Gelia yang selalu percaya
akan setiap halusinasi Arka ini tidak pernah bosan untuk mendengarkan setiap
cerita Arka tentang mimpinya. Kejanggalan terasa ketika Arka menemukan
jawaban-jawaban dari setiap mimpi-mimpinya, melalui sorang ibu-ibu yang Arka
juluki “Ibu Payudara Satu”. Arka mulai mengaitkan setiap mimpi atau
halusinasinya pada kehidupan yang pernah
Arka jalani sebelum ia menderita stroke.
Tak
dis angka bahwa setiap
mimpi-mimpinya itu merupakan kenangan Arka dalam wujud yang berbeda. Setiap tokoh
yang ada dalam mimpinya ternyata merupakan orang-orang yang dikenalnya dalam
dunia nyata. Novel ini memiliki garis besar cerita yang terletak pada kekuasan
pemerintah yang berkedok baik, tapi sebenarnya ada tindakan buruk yang mereka
lakukan terhadap rakyatnya. Tindakan buruk tersebut tentu saja bertujuan untuk
menguntungkan pemerintah dalam cerita ini. Pada cerita ini, tindakan buruk
pemerintah dilakukan oleh dinas pertamanan kota yang menangkap paksa Arka untuk
menyetujui permintaan ambisius walikota untuk memperindah tamannya.
Novel
ini juga ‘dibumbui’ oleh cerita romantis antara Arka dan sang kekasih, Gelia.
Gelia yang digambarkan sebagai tokoh yang ceria, serba ingin tahu, dan setia
pada Arka, menjadi salah satu daya tarik dalam novel ini. Penulis berhasil
membuat kagum pembaca novelnya dengan karakter yang ada pada Gelia. Kehadiran
Gelia dalam novel ini menjadi warna lain dalam perjalanan kisah pencarian
kenangan masa lalu Arka. Gelia yang menjadi satu-satunya orang yang percaya
akan mimpi-mimpi Arka ini berhasil membentuk sisi romantis dari novel ini.
Tidak
hanya Gelia, beberapa tokoh lain yang turut menjadi pelengkap dalam novel ini
adalah Lelaki Buaya, Lelaki Gemuk Merah, Perempuan Baju Hijau, Ibu Payudara
Satu, dan Perempuan Cadel—yang ternyata adalah Gelia. Ini yang menjadi salah
satu keunikan dalam novel ini, penulis memersonifikasi setiap tokoh dalam
novelnya dari hasil deskripsi mata sang tokoh utama. Meski pembaca tidak dapat
mengetahui siapa nama asli mereka, tapi dari panggilan tersebut karakter mereka
masing-masing tetap menonjol dan kuat satu dengan yang lain.
Teknik
cerita novel ini memang mengejutkan dan tidak disangka-sangka. Penulis mengemas
cerita dalam novelnya ini tidak langsung menjadi satu pokok cerita begitu saja,
tapi ia mengemasnya melalui potongan-potongan mimpi. Kemudian setiap potongan
mimpi tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru bagi sang tokoh utama dan
usaha untuk menemukan jawabannya. Jawaban yang didapat oleh tokoh utama juga
tidak akan terbayangkan oleh pembaca sebelumnya. Memang, banyak kejutan ketika
membaca novel ini.
Bahasa
dalam novel ini bersifat puitis dan prosais, salah satu contohnya pada
penggambaran matahari yang diubah majas seperti kalimat, “Semerbak Lemon
menyeruaki Kota ini, pertanda matahari akan segera terbenam.” Sifat puitis
tersebut juga sama seperti penamaan masing-masing tokoh yang diberikan oleh
penulis. Tidak ingin membuat pembaca lelah membaca novel ini, penulis juga
menyampaikan dialek-dialek yang sesuai dengan pemahaman umum. Membaca
percakapan pada novel ini, seakan-akan nyata karena adanya tambahan dialek
tersebut,
Keunggulan
dalam novel ini salah satunya adalah sampul novel. Warna dasar putih, gambar
otak yang diwarnai bermacam-macam warna, dan tulisan forgotten colors sebenarnya sudah sedikit menerangkan isi novel,
serta tulisan “Menjelajah Mimpi, Kenangan, dan Kerinduan” yang menjadi inti
dari alur cerita novel ini. Keunggulan ini sekaligus menjadi tantangan bagi
penulis, sampul buku yang sederhana sering kali menimbulkan anggapan isi
ceritanya juga sederhana. Sehingga sedikit masyarakat yang tertarik—di luar
dari penggemar novel karya Valiant Budi untuk membaca novel ini. Tidak perlu
khawatir karena sebenarnya alur cerita ini tidak sesederhana sampul novel.
Secara
keseluruhan, novel Forgotten Colors menyampaikan
cerita menarik dengan gaya bahasa puitis yang dapat menghanyutkan perasaan
sekaligus menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi pembaca. Sisi menghanyutkan
perasaan terletak pada sisi romantis pada Gelia dan Arka. Pertanyaan juga akan
muncul dalam benak pembaca ketika ingin tahu, siapa tokoh-tokoh nyata di
kehidupan Arka yang muncul dalam mimpi atau halusinasinya. Selain itu, mimpi
Arka juga dijadikan perumpamaan pada realitas kehidupan Arka.
Novel
ini mengajarkan kita tentang hikmah dari penyakit dan pengenalan diri. Keputus
asaan memang sering terjadi bagi orang-orang yang menderita penyakit di usia
muda, tapi novel ini juga mengajarkan kita untuk tidak putus asa dan berpasrah
pada keadaan. Perlu ada semangat juang untuk mendapatkan kesembuhan. Selain
itu, pengenalan diri lebih baik juga perlu dilakukan. Bentuk pengenalan salah
satunya melalui kenangan yang ada. Novel ini cocok dibaca oleh pembaca yang
menyukai alur cerita gabungan antara dunia mimpi dengan dunia nyata. (Elvira
Yolanda)