Senin, 31 Agustus 2020

Menemukan Kenangan Melalui Mimpi

 

Sakit stroke hemoragik Valiant Budi, tak membuatnya berhenti menulis. Selama masa pemulihan, menulis dijadikannya medium untuk melampiaskan frustasinya itu. Sempat terbesit dalam hati bahwa kariernya akan selesai, tapi nyatanya ia malah berhasil menerbitkan buku novel yang berjudul Forgotten Colors ini. Forgotten Colors memang bukan novel yang diangkat dari kisah nyata, tapi Vabyo (sapaan akrab Valiant Budi) menghadirkan dirinya sebagai tokoh di dalam novel ini. Melalui novel ini, penulis memiliki keyakinan dan harapan untuk mengingat kembali dirinya juga beragam kenangan yang ia coba untuk mengingatnya.

            Pahit-manisnya kenangan manusia, tetap menjadi sebuah bagian dari perjalanan hidup manusia. Setiap kenangan yang ada (baik manis, maupun pahit), perlu diingat sebagai tanda jati diri. Namun, beda bagi setiap orang yang sempat tanpa sengaja lupa akan kenangan mereka. Salah satunya adalah Arka, ia mengalami stroke yang menyerang otak kiri dan membuatnya lupa akan kenangan yang ia miliki. Selama masa pemulihan, ia tak diam saja. Arka tetap berusaha untuk mengingat kenangan, tapi ia malah dihantui oleh mimpi-mimpi aneh bahkan sampai halusinasi.

            Arka tidak sendirian ketika ia berusaha untuk menemukan kembali ingatan-ingatan yang sempat terlupakan olehnya. Bersama kekasihnya, Gelia, mereka bersama-sama untuk menemykan kenangan yang sempat terlupakan oleh Arka. Gelia yang selalu percaya akan setiap halusinasi Arka ini tidak pernah bosan untuk mendengarkan setiap cerita Arka tentang mimpinya. Kejanggalan terasa ketika Arka menemukan jawaban-jawaban dari setiap mimpi-mimpinya, melalui sorang ibu-ibu yang Arka juluki “Ibu Payudara Satu”. Arka mulai mengaitkan setiap mimpi atau halusinasinya pada kehidupan  yang pernah Arka jalani sebelum ia menderita stroke.

            Tak dis            angka bahwa setiap mimpi-mimpinya itu merupakan kenangan Arka dalam wujud yang berbeda. Setiap tokoh yang ada dalam mimpinya ternyata merupakan orang-orang yang dikenalnya dalam dunia nyata. Novel ini memiliki garis besar cerita yang terletak pada kekuasan pemerintah yang berkedok baik, tapi sebenarnya ada tindakan buruk yang mereka lakukan terhadap rakyatnya. Tindakan buruk tersebut tentu saja bertujuan untuk menguntungkan pemerintah dalam cerita ini. Pada cerita ini, tindakan buruk pemerintah dilakukan oleh dinas pertamanan kota yang menangkap paksa Arka untuk menyetujui permintaan ambisius walikota untuk memperindah tamannya.

            Novel ini juga ‘dibumbui’ oleh cerita romantis antara Arka dan sang kekasih, Gelia. Gelia yang digambarkan sebagai tokoh yang ceria, serba ingin tahu, dan setia pada Arka, menjadi salah satu daya tarik dalam novel ini. Penulis berhasil membuat kagum pembaca novelnya dengan karakter yang ada pada Gelia. Kehadiran Gelia dalam novel ini menjadi warna lain dalam perjalanan kisah pencarian kenangan masa lalu Arka. Gelia yang menjadi satu-satunya orang yang percaya akan mimpi-mimpi Arka ini berhasil membentuk sisi romantis dari novel ini.

            Tidak hanya Gelia, beberapa tokoh lain yang turut menjadi pelengkap dalam novel ini adalah Lelaki Buaya, Lelaki Gemuk Merah, Perempuan Baju Hijau, Ibu Payudara Satu, dan Perempuan Cadel—yang ternyata adalah Gelia. Ini yang menjadi salah satu keunikan dalam novel ini, penulis memersonifikasi setiap tokoh dalam novelnya dari hasil deskripsi mata sang tokoh utama. Meski pembaca tidak dapat mengetahui siapa nama asli mereka, tapi dari panggilan tersebut karakter mereka masing-masing tetap menonjol dan kuat satu dengan yang lain.

            Teknik cerita novel ini memang mengejutkan dan tidak disangka-sangka. Penulis mengemas cerita dalam novelnya ini tidak langsung menjadi satu pokok cerita begitu saja, tapi ia mengemasnya melalui potongan-potongan mimpi. Kemudian setiap potongan mimpi tersebut menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru bagi sang tokoh utama dan usaha untuk menemukan jawabannya. Jawaban yang didapat oleh tokoh utama juga tidak akan terbayangkan oleh pembaca sebelumnya. Memang, banyak kejutan ketika membaca novel ini.

            Bahasa dalam novel ini bersifat puitis dan prosais, salah satu contohnya pada penggambaran matahari yang diubah majas seperti kalimat, “Semerbak Lemon menyeruaki Kota ini, pertanda matahari akan segera terbenam.” Sifat puitis tersebut juga sama seperti penamaan masing-masing tokoh yang diberikan oleh penulis. Tidak ingin membuat pembaca lelah membaca novel ini, penulis juga menyampaikan dialek-dialek yang sesuai dengan pemahaman umum. Membaca percakapan pada novel ini, seakan-akan nyata karena adanya tambahan dialek tersebut,

            Keunggulan dalam novel ini salah satunya adalah sampul novel. Warna dasar putih, gambar otak yang diwarnai bermacam-macam warna, dan tulisan forgotten colors sebenarnya sudah sedikit menerangkan isi novel, serta tulisan “Menjelajah Mimpi, Kenangan, dan Kerinduan” yang menjadi inti dari alur cerita novel ini. Keunggulan ini sekaligus menjadi tantangan bagi penulis, sampul buku yang sederhana sering kali menimbulkan anggapan isi ceritanya juga sederhana. Sehingga sedikit masyarakat yang tertarik—di luar dari penggemar novel karya Valiant Budi untuk membaca novel ini. Tidak perlu khawatir karena sebenarnya alur cerita ini tidak sesederhana sampul novel.

            Secara keseluruhan, novel Forgotten Colors menyampaikan cerita menarik dengan gaya bahasa puitis yang dapat menghanyutkan perasaan sekaligus menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi pembaca. Sisi menghanyutkan perasaan terletak pada sisi romantis pada Gelia dan Arka. Pertanyaan juga akan muncul dalam benak pembaca ketika ingin tahu, siapa tokoh-tokoh nyata di kehidupan Arka yang muncul dalam mimpi atau halusinasinya. Selain itu, mimpi Arka juga dijadikan perumpamaan pada realitas kehidupan Arka.

            Novel ini mengajarkan kita tentang hikmah dari penyakit dan pengenalan diri. Keputus asaan memang sering terjadi bagi orang-orang yang menderita penyakit di usia muda, tapi novel ini juga mengajarkan kita untuk tidak putus asa dan berpasrah pada keadaan. Perlu ada semangat juang untuk mendapatkan kesembuhan. Selain itu, pengenalan diri lebih baik juga perlu dilakukan. Bentuk pengenalan salah satunya melalui kenangan yang ada. Novel ini cocok dibaca oleh pembaca yang menyukai alur cerita gabungan antara dunia mimpi dengan dunia nyata. (Elvira Yolanda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar