Hehehehe, aku merasa dibodoh-bodohi. Jangan sampai bodoh
oleh hati yang mudah rapuh, tapi otak yang berusaha tangguh. Memangnya kamu
pikir aku akan mudah gitu saja luluh? Atau mungkin kamu pikir aku akan cemburu?
Memangnya kamu siapa temanku? Aku bukan orang yang mudah luluh oleh karena
perkataanmu. Ingat. Meskipun hatiku yang rapuh ini mudah luluh, tapi aku masih otak
yang tangguh. Jangan salah, sekali dua kali, usahamu yang setengah-setengah itu,
tidak bisa buatku begitu saja percaya dengan kalimatmu yang membuatku terkejut
waktu itu.
Sekarang apa? Apa maksudmu? Aku tahu, setengah, bukan.
Secuil tentangmu yang membuatku tambah ragu, apa maksudmu sebenarnya? Apa yang
kamu mau tunjukkan padaku? Pada sahabatku? Kamu merasa hebat bisa menaklukan
perempuan? Tidak. Tidak semua perempuan itu sama. Jangan samakan aku dengan
perempuan yang pernah menjadi tujuan permainanmu. Aku tidak sama dengan mereka.
Aku punya caraku sendiri. Caraku yang tidak hanya mengandalkan hati dalam
menghadapi hal itu. Kalau kamu merasa berhasil meruntuhkan hatiku, jangan
senang dulu, temui otakku yang tangguh ini. baru boleh kamu berbangga hati.
Pengalamanku tentang hal itu memang bukan berasal dariku
sendiri. Aku pun belum memiliki
pengalaman sendiri. Namun teman-temanku mengajarkanku melalui pengalaman
mereka. Setidaknya aku tidak naif tentang hal itu. Aku masih bisa mengetahui
mana yang sungguh-sungguh, mana yang punya tujuan tertentu. Percayalah teman,
hatimu hanya sedang sedih. Hiburlah, tapi jangan melibatkan hati orang lain.
Hati mereka tak bersalah, hatimu pun tidak bersalah. Kasih ia istirahat. Kasih
hatimu ruang sendiri. Percayalah kawan, hati dan perasaannya tidak harus selalu
diisi dengan hal itu. Terkadang hati juga ingin menikmati kesendiriannya.
Nikmatilah kebebasan itu, untukmu dan juga hatimu. Segalanya indah, jika kamu
dan hatimu bisa menerima keindahan itu.
Dari aku, temanmu.
**hal itu, aku rasa kamu tau apa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar