Sabtu, 02 Desember 2017

Dariku yang Hatinya Mudah Rapuh

Hehehehe, aku merasa dibodoh-bodohi. Jangan sampai bodoh oleh hati yang mudah rapuh, tapi otak yang berusaha tangguh. Memangnya kamu pikir aku akan mudah gitu saja luluh? Atau mungkin kamu pikir aku akan cemburu? Memangnya kamu siapa temanku? Aku bukan orang yang mudah luluh oleh karena perkataanmu. Ingat. Meskipun hatiku yang rapuh ini mudah luluh, tapi aku masih otak yang tangguh. Jangan salah, sekali dua kali, usahamu yang setengah-setengah itu, tidak bisa buatku begitu saja percaya dengan kalimatmu yang membuatku terkejut waktu itu.

Sekarang apa? Apa maksudmu? Aku tahu, setengah, bukan. Secuil tentangmu yang membuatku tambah ragu, apa maksudmu sebenarnya? Apa yang kamu mau tunjukkan padaku? Pada sahabatku? Kamu merasa hebat bisa menaklukan perempuan? Tidak. Tidak semua perempuan itu sama. Jangan samakan aku dengan perempuan yang pernah menjadi tujuan permainanmu. Aku tidak sama dengan mereka. Aku punya caraku sendiri. Caraku yang tidak hanya mengandalkan hati dalam menghadapi hal itu. Kalau kamu merasa berhasil meruntuhkan hatiku, jangan senang dulu, temui otakku yang tangguh ini. baru boleh kamu berbangga hati.

Pengalamanku tentang hal itu memang bukan berasal dariku sendiri. Aku pun belum memiliki pengalaman sendiri. Namun teman-temanku mengajarkanku melalui pengalaman mereka. Setidaknya aku tidak naif tentang hal itu. Aku masih bisa mengetahui mana yang sungguh-sungguh, mana yang punya tujuan tertentu. Percayalah teman, hatimu hanya sedang sedih. Hiburlah, tapi jangan melibatkan hati orang lain. Hati mereka tak bersalah, hatimu pun tidak bersalah. Kasih ia istirahat. Kasih hatimu ruang sendiri. Percayalah kawan, hati dan perasaannya tidak harus selalu diisi dengan hal itu. Terkadang hati juga ingin menikmati kesendiriannya. Nikmatilah kebebasan itu, untukmu dan juga hatimu. Segalanya indah, jika kamu dan hatimu bisa menerima keindahan itu.


Dari aku, temanmu.

**hal itu, aku rasa kamu tau apa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar