Minggu, 17 Desember 2017

Jadi Humoris Tidak Mudah

Lingkungan sosial memang salah satu sumber pembelajaran buat diri, ya kan? Menurutku aja sih itu, terserah mau percaya atau engga. Kenapa aku ngomong gitu...karena sejauh ini aku banyak belajar dari lingkungan sosialku. Seperti setiap manusia yang berbeda-beda dan berkumpul dalam suatu populasi, serta melakukan interaksi sosial. Ya, dari situ aku belajar. Kalau tidak salah (ya, berarti benar) salah satu sifat komunikasi irreversible itu memang terjadi adanya. Setiap perkataan yang keluar dari mulut manusia—baik sengaja maupun tidak, baik bercanda maupun tidak—itu semua bisa menimbulkan dampak dari yang menerima perkataan tersebut. Hmm, sebenernya bukan mau ngajarin tentang komunikasi sih hehehe. Cuma mau bercerita aja tentang kondisi lingkungan sosialku yang kuingat dan punya tambahan pemahaman untuk diriku sendiri.

Aku ngaku, aku ini baper-an ternyata. Hal itu aku sadari karena aku sempat menjadi bahan lelucon oleh lingkungan sosialku. Ya, rasanya aku tak perlu menceritakan bagaimana kondisi lingkunganku ini karena aku hanya menilai dari sudut pandangku aja. Okey. Ya. Aku memang seorang yang senang bercanda, suka sama situasi yang tidak kaku (tapi, sejauh ini tulisan elu kek kaku gitu bahasanya jedot). Yap, aku suka ngelawak gak jelas lah ya sama lingkungan sosialku ini. Namun, beberapa kali aku temukan dari lingkunganku yang senang bercanda...mereka sering menggunakan hal-hal yang sebenarnya dapat melukai hati. Bingung ya? Emang kok aku selain senang bercanda, juga senang buat orang bingung hahaha. Hal-hal itu seperti berkaitan dengan fisik dan sesuatu yang menempel pada diri(ku).

Kenapa ya? Dua hal itu bisa jadi hal yang patut untuk ditertawakan? Padahal, itu bukan hal yang lucu. Hanya mereka yang mengemas itu menjadi lucu. Tapi mereka mikir gak ya kalo dampaknya bisa buat orang lain sakit hati? Kayak misalnya aku sedang memakai dress yang panjangnya sampai betis, lalu hal tersebut mereka kemas jadi sesuatu yang lucu seperti “Bajunya kayak baju ibu-ibu aji.”, “Bajunya sama gayanya pas lah ya kayak ibu-ibu tukang daging.” Ya, bagi mereka mungkin itu hal yang lucu. Tapi mereka gak tau dress yang kupakai itu milik peninggalan Almarhum Nenekku. Mereka tertawa dengan puas, aku hanya pura-pura tertawa agar tidak ada yang panas.

Satu lagi, sebenarnya ini sebagai bentuk keseluruhan dari apa yang sudah kualami. Kamu tau lah, bagi perempuan fisik itu merupakan hal yang sensitif untuk menjadi bahan perbincangan. Yap, kebetulan aku perempuan yang sering kali fisikku mereka cela. Telingaku sudah terbiasa sejak SD saat mereka memandang fisikku ini sebagai bahan lelucon mereka. Namun, hatiku sering kali berontak. Hatiku ingin marah tiap kali mereka menjadikan fisikku sebagai lelucon mereka. Lalu, apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Aku masih saja terperangkap dalam situasi lingkungan sosialku ini. Rasanya menyebalkan, ya, memang menyebalkan.

Temen-temen, aku ingin sedikit cerita ke kalian. Isi hatiku selama ini. Maaf, kalau fisikku ada salah. Maaf, kalau apa yang aku pakai membuat kalian menjadi berdosa. Aku hanya tau kalau seseorang yang punya selera humor yang baik, mereka punya cara yang baik pula untuk membuat lelucon tanpa menyakiti hati siapa pun. Maaf, kalau aku pun pernah melukai hati kalian melalui leluconku. Itu hanya sebagai bentuk pembelaanku terhadap apa yang pernah kalian lakukan padaku. Karena kusadari, pada dasarnya aku butuh orang lain untuk membelaku. Tetapi, sepertinya suatu populasi membentuk kalian menjadi seseorang yang sama. Sama-sama senang menilai fisik dan sesuatu yang menempel pada diri sebagai hal yang bisa dijadikan bahan lelucon. Hingga akhirnya, aku lah satu-satunya yang bisa membela diriku sendiri.


Temen-temen, aku percaya kalian punya selera humor yang baik. Maka, pergunakanlah selera humor kalian dengan cara yang baik pula. Menurutku, dua hal itu bukan termasuk hal yang patut untuk ditertawakan. Mungkin, kalian bisa menggunakan pilihan lain ketika sedang membangkitkan suasana humor di populasi kalian. Misalnya, mengangkat pembahasan yang ringan seperti upil atau kentut gitu? Ya, aku rasa kalian bisa tanpa perlu dijelaskan. Hehe. Udah atuh lah, jangan kaku, nanti beku.

Sabtu, 02 Desember 2017

Dariku yang Hatinya Mudah Rapuh

Hehehehe, aku merasa dibodoh-bodohi. Jangan sampai bodoh oleh hati yang mudah rapuh, tapi otak yang berusaha tangguh. Memangnya kamu pikir aku akan mudah gitu saja luluh? Atau mungkin kamu pikir aku akan cemburu? Memangnya kamu siapa temanku? Aku bukan orang yang mudah luluh oleh karena perkataanmu. Ingat. Meskipun hatiku yang rapuh ini mudah luluh, tapi aku masih otak yang tangguh. Jangan salah, sekali dua kali, usahamu yang setengah-setengah itu, tidak bisa buatku begitu saja percaya dengan kalimatmu yang membuatku terkejut waktu itu.

Sekarang apa? Apa maksudmu? Aku tahu, setengah, bukan. Secuil tentangmu yang membuatku tambah ragu, apa maksudmu sebenarnya? Apa yang kamu mau tunjukkan padaku? Pada sahabatku? Kamu merasa hebat bisa menaklukan perempuan? Tidak. Tidak semua perempuan itu sama. Jangan samakan aku dengan perempuan yang pernah menjadi tujuan permainanmu. Aku tidak sama dengan mereka. Aku punya caraku sendiri. Caraku yang tidak hanya mengandalkan hati dalam menghadapi hal itu. Kalau kamu merasa berhasil meruntuhkan hatiku, jangan senang dulu, temui otakku yang tangguh ini. baru boleh kamu berbangga hati.

Pengalamanku tentang hal itu memang bukan berasal dariku sendiri. Aku pun belum memiliki pengalaman sendiri. Namun teman-temanku mengajarkanku melalui pengalaman mereka. Setidaknya aku tidak naif tentang hal itu. Aku masih bisa mengetahui mana yang sungguh-sungguh, mana yang punya tujuan tertentu. Percayalah teman, hatimu hanya sedang sedih. Hiburlah, tapi jangan melibatkan hati orang lain. Hati mereka tak bersalah, hatimu pun tidak bersalah. Kasih ia istirahat. Kasih hatimu ruang sendiri. Percayalah kawan, hati dan perasaannya tidak harus selalu diisi dengan hal itu. Terkadang hati juga ingin menikmati kesendiriannya. Nikmatilah kebebasan itu, untukmu dan juga hatimu. Segalanya indah, jika kamu dan hatimu bisa menerima keindahan itu.


Dari aku, temanmu.

**hal itu, aku rasa kamu tau apa itu.

Senin, 19 Juni 2017

Tanjung Sayang di Ujung Sumedang

alan berbatu dan suasana gersang menyambut saya selama perjalanan menuju Tanjung Duriat, Desa Pajagan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Mengendarai sepeda motor selama kurang lebih tiga jam perjalanan, saya tempuh demi menebus rasa penasaran ingin melihat Tanjung—daratan yang menjorok ke danau, di ujung Kabupaten Sumedang. Sesampainya di sana, pemandangan indah pun seakan menuntun saya untuk menyusuri luasnya air tawar pada siang itu. Penat selama perjalanan terbayarkan oleh udara yang sejuk dan bendungan Jatigede yang terbentang luas.
            Tanjung Duriat menampilkan sisi lain dari pemandangan Bendungan Jatigede yang terletak di antara Kabupaten Sumedang, Cirebon, dan Majalengka. Lahan milik Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani) ini belum resmi menjadi kawasan wisata. Meski begitu, banyak pengunjung yang telah mengetahui tempat wisata yang juga menawarkan tur keliling pulau di sekitar Tanjung ini. Syifa, seorang pengunjung di sana yang saya temui pada 20 April 2017 lalu. Ia turut kagum atas keindahan Bendungan Jatigede dari atas bukit yang dipijaknya. “Pemandangannya bagus banget, tapi ngerasa gersang aja tempatnya. Mungkin karena tempat baru ya, kalau dikembangkan bisa jadi bagus kok,” ucapnya kala itu. Ini memang pertama kalinya Syifa mendatangi Tanjung, “Sebenarnya tadi ingin ke Waduknya langsung, cuma sempat kesasar dan malah sampai di tempat ini. Ya, tidak menyesal juga sih walau ke sini gak sengaja,” tambahnya.
            Belum banyak yang bisa dinikmati selain pemandangan alam dari Tanjung Duriat karena memang masih dalam tahap pembenahan. Nantinya sesuai dengan rencana Perhutani Sumedang, tanjung ini juga akan menyediakan berbagai wahana bagi pengunjung. Rencana ini disampaikan oleh Asisten Perhutani Sumedang, Eros Ruswandi yang saya temui di sana. “Tanjung Duriat ini buka bulan Juli 2016, hasil kerja sama antara Perhutani Sumedang dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Saat ini, kami berencana mengundang investor untuk mengembangkan tempat wisata alam ini,” ujar lelaki yang saat itu mengenakan seragam pegawai negerinya.
Kasih Sayang terhadap Alam
             Nama Tanjung Duriat dipilih tidak hanya untuk menambahkan nilai jualnya. Diberi nama tanjung di depannya pun karena dataran tinggi ini menjorok ke danau. “Daratannya berbentuk tanjung,” kata Eros. Kata Duriat sendiri berasal dari Bahasa Sunda yang artinya kasih sayang. Seperti yang dilansir pada sumedangtandang.com, arti kasih sayang di sini bukan sekedar menggambarkan cinta kasih. Namun lebih dari penggambaran itu, di tempat ini pengunjung dapat merasakan nuansa indahnya Bendungan Jatigede dan melihat pelangi di saat hujan, serta melihat matahari terbenam sampai munculnya bulan.
            Mewakili arti dari Tanjung Duriat ini, maka dibangunlah penanda Tanjung Duriat dengan gambar hati di tengah tulisannya. Penanda ini juga dapat menjadi tempat berfoto ria bersama teman, keluarga, atau orang terkasih. Di belakang penanda ini juga terlihat pemandangan hamparan air Bendungan Jatigede yang dapat mendukung kestetisan hasil foto sendiri (selfie) atau bersama teman (wefie). Selain itu, ada tiang informasi penanda arah beberapa negara di dunia dan tempat di sekitar Bendungan Jatigede. Tiang ini juga bisa jadi tempat berfoto lainnya bersama keluarga atau teman-teman.
***
            Memerlukan proses yang sulit untuk mendapatkan hasil yang berharga. Sama seperti Tanjung Duriat ini, tidak mudah melalui akses yang berbatu. Selain itu, sudah lelah dengan perjalanannya, pengunjung juga harus membayar tiket masuk seharga Rp 5000 per orang, Rp 5000 untuk kendaraan roda empat dan Rp 2000 untuk kendaraan roda dua. Setelah itu, baru pengunjung dapat menikmati kasih sayang yang berasal dari alam sepuasnya. “Harga masuknya cukup terjangkau, harapannya sih ketika tempat wisata ini sudah diresmikan, harga masuknya enggak naik. Tetap standar aja gitu,” ucap April, salah satu pengunjung lainnya saat itu.

            Tidak terasa waktu yang saya habiskan untuk menikmati keindahan Bendungan buatan manusia ini dari sisi barat lautnya. Keindahan alam ini mampu membawa lari saya sejenak dari realitas kehidupan. Memang benar, saya merasa sedang mendapatkan kasih sayang dari alam. Sebelum kembali melewati jalan berbatu, saya tidak lupa mengabadikan indahnya pemandangan Bendungan Jatigede dari Tanjung Duriat melalui lensa kamera. Harapannya, melalui lensa kamera, saya masih bisa merasakan keindahan alam tanpa harus lari dari realita.

Berbagi Melalui Sekantung Darah

Mobil putih bertuliskan Palang Merah Indonesia terparkir di dekat pintu samping Gelanggang Olah Raga (GOR) Jati Universitas Padjadjaran siang itu. Beberapa orang juga terlihat tengah berkerumun pada satu meja di dalam GOR, mereka sedang mengantri untuk mendaftar donor darah. Saat saya datang, hanya ada tiga perempuan yang sedang terbaring di sebuah tandu berwarna hijau yang di atasnya diletakkan bantal berwarna biru. Tangan mereka masih tertancap jarum yang mengalirkan darah dari tubuh ke dalam kantung darah. Wajah pendonor berubah menjadi pucat. Mungkin karena darah dalam tubuh mereka menjadi berkurang karena sudah didermakan. Keramaian di sana sebenarnya bukan didominasi oleh pendonor, melainkan oleh panitia yang mengadakan acara donor darah dan perawat di sana.
            Sebuah komunitas di Unpad memiliki cara baru untuk merayakan hari jadi mereka. Donor darah menjadi rangkaian acara dari hari jadi komunitas Vanguard Parkour Universitas Padjadjaran (Unpad) yang ke-5 dan diselenggarakan pada Jumat, 22 April 2017. Mengaku pertama kalinya mengadakan acara donor darah ini, ketua pelaksana Arianto mengatakan, acara ini bertujuan untuk amal dan mempromosikan komunitas. “Tahun sebelumnya, merayakan hari jadi hanya berupa kumpul bareng. Tahun ini mau coba sesuatu yang beda aja,” katanya. Arianto mengatakan, banyak mahasiswa yang datang untuk mendonor, tapi juga ada petugas kebersihan yang ikut mendonor di sini.
            Saat sedang berbincang dengan ketua pelaksana, dua orang tiba-tiba datang sembari menggendong seorang perempuan berkerudung hitam.“Tolong, panitia ini ada yang pingsan,” ujar kawan dari perempuan yang sedang dibopong itu. Para panitia pun langsung membawa perempuan itu ke tandu dan segera memberikan pertolongan pertama. Setelah diketahui, perempuan itu ternyata habis mendonorkan darahnya, namun tiba-tiba terjatuh saat berjalan menuju Gerbang Lama Unpad. Saya bertanya pada Arianto mengapa bisa sampai ada yang pingsan. Menurutnya, akibat darah yang diambil cukup banyak, menyebabkan darah dalam tubuh berkurang sehingga menimbulkan pusing, bahkan bisa sampai pingsan.
            Setelah mendonorkan darah, wajah pucat menghiasi setiap orang yang telah selesai mendonorkan darahnya. Galuh Rahayu, mahasiswi Unpad juga demikian, wajahnya terlihat pucat ketika saya temui di parkiran motor samping GOR Jati. Ini merupakan pertama kalinya Galuh melakukan donor darah. “Sebenarnya saya sudah ingin mendonor darah pada acara donor darah dua hari lalu, tapi takut saat lihat seorang pendonor yang bekas luka donornya tidak tertutup rapat,” kata Galuh. Namun, ia tetap ingin mendonorkan darahnya dan terbukti ia sudah mendonorkan darahnya melalui acara yang bertajuk “Vanguard Give Blood.”
            Ketika ditanya soal persiapan sebelum donor darah, Galuh memang tidak terlalu paham tentang persiapan donor darah yang benar. “Sebelum donor darah, saya sarapan dulu dan banyak minum air putih,” katanya. Seorang pendonor lainnya juga mengatakan hal yang sama, April, salah satu pendonor, juga mengaku hanya sarapan dan banyak minum air putih sebelum mendonorkan darahnya. Berbeda dengan Galuh, April sudah melakukan donor darah lebih dari satu kali. “Setiap ada event kampus yang berbentuk donor darah, saya selalu ikut,” kata mahasiswi semester 4 ini. Baginya, donor darah merupakan kegiatan yang harus dirutinkan karena selain berbagi, juga berpengaruh terhadap kesehatan.
            Donor darah memang memiliki beberapa manfaat bagi tubuh. Seperti keterangan dari Gina Adhnia Huda Dokter yang bertugas pada salah satu event donor darah di Jakarta, Februari lalu, “Setelah donor darah, tubuh menjadi lebih fit karena produksi darah diperbaharui. Selain itu, tekanan darah jadi lebih stabil.” Dilansir dalam liputan6.com, ia juga menambahkan, “Keuntungan juga bisa didapat bagi mereka yang kelebihan sel darah merah. Karena dengan donor darah, tubuh jadi menyeimbangkan dengan kebutuhan.”
Hari Jadi Vanguard Parkour Unpad
            Siapa sangka yang mengadakan acara donor darah ini merupakan sebuah komunitas di Universitas Padjadjaran (Unpad). Vanguard Parkour Unpad merupakan komunitas parkour—seni bergerak atau berpindah tempat dari titik ke titik dengan mengefisienkan pergerakan dan secepat mungkin. Komunitas yang berdiri pada 27 April 2012 ini beranggotakan lebih dari 25 orang. Komunitas ini didirikan oleh Luqmanul Hakim, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unpad dan Adzar, seorang warga asal Jatinangor.
            Dalam rangka menyambut hari jadi komunitas ini, acara donor darah dipilih sebagai salah satu rangkaian dalam menyambut hari jadinya tersebut. Bagi komunitas ini, event donor darah ini memang berbeda dari sebelumnya. Ketika ditanya akankah event donor darah ini dijadikan program rutin untuk komunitas, ketua pelaksana menjawab “Mungkin akan berkelanjutan di tahun-tahun ke depannya.”
            Saya meninggalkan tempat berlangsungnya donor darah ini dengan harapan, semoga setelah siang beranjak menuju sore, makin banyak pendonor yang datang, agar banyak pula orang-orang yang tertolong dari sumbangan darah mereka.

Minggu, 18 Juni 2017

Keahlian Membawa Keuntungan

A
da-ada saja ide usaha yang dimiliki oleh mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan kantongnya. Mulai dari mendirikan usaha jasa transportasi seperti ojek online hingga usaha dengan inovasi baru yaitu jasa pijat. Usaha jasa pijat berbasis online ini sudah ditekuni Maryono Purba, seorang mahasiswa Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran selama hampir satu tahun. Ia bercerita tentang bagaimana kebisaannya ini dapat menjadi usaha yang ternyata banyak diminati oleh mahasiswa.
            “Pertama, saya punya keturunan bisa memijat. Turunan tersebut saya dapat dari nenek saya di Kampung Berastagi. Awalnya saya memijat teman sekelas saya doang, gak ada yang tau kalau saya bisa mijat,” ujar Maryono sembari tersenyum saat membagi ceritanya di Rumah Makan Dapoer Roti Bakar, Jatinangor.
            Suasana Dapoer Roti Bakar yang hening kala siang itu seakan turut mendengar cerita Maryono atau yang lebih akrab disapa Ono tentang usaha jasa pijatnya ini. Ide membuka usaha pijat sebenarnya mulai terbentuk matang saat Ono menghadiri Rapar­­-semacam pertemuan para ojek delivery makanan. Keahliannya dalam memijat diketahui oleh teman-teman di Rapar, saat itu salah seorang temannya dari Fakultas Ilmu Politik dan Sosial di Universitas yang sama memintanya untuk memijat. Sejak saat itu, mereka mengetahui bahwa Ono memiliki sebuah keahlian dan menyarankan untuk menjadikannya sebuah usaha yang menguntungkan.
            “No, maneh bikin aja official account pijat. Kan jarang ada akun pijat di Nangor,” kata Ono sembari mengikuti gaya bicara temannya. Ono mengakui bahwa memang belum ada mahasiswa lain yang membuka usaha pijat, baginya ini dapat menjadi peluang yang besar untuk menekuni dan menjadikannya sebuah usaha. April tahun lalu, Ono akhirnya memustukan untuk menekuni keahliannya ini dan menjadikannya sebuah peluang usaha.
            Target utamanya adalah mahasiswa, khususnya mahasiswa dari Universitas Padjadjaran. Awal membuka usaha ini, ia mengakui bahwa banyak mahasiswa yang memesan jasa pijatnya. “Karena sempat dipromosikan oleh teman-teman Rapar, jadi banyak mahasiswa yang ingin dipijat,” tutur Ono yang terlihat senang seakan sedang kembali ke masa awal merintis usahanya. Banyaknya mahasiswa yang memesan, membuatnya sempat kewalahan karena saat itu hanya Ono yang menjadi therapist (tukang pijat).
            “Pas awal merintis, cukup banyak mahasiswa yang mesen, tapi saya tolak. Soalnya, yang mesen rata-rata perempuan, kan gak mungkin saya mijit perempuan. Pernah sih ambil pesenan dari perempuan, tapi hanya bagian tertentu aja, kayak tangan, kaki, dan kepala,” ucapnya sambil tertawa.
            “Sebelumnya memang sempat ada dua therapist perempuan yang ikut usaha ini dari Fakultas Ilmu Budaya, tapi mereka udah lulus dan sudah kembali ke asal daerah mereka masing-masing,” katanya. Ini yang menjadi penyebab sempatnya usaha pijat ini vakum beberapa bulan untuk pijat kaum perempuan dan hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki.
            Seiring berjalannya usaha pijat miliki Maryono ini, membuat ia memutuskan untuk membuka pendaftaran untuk menjadi therapist. Ia mengungkapkan karena banyaknya perempuan yang mengikuti akun Line pijat online ini membuatnya harus merekrut perempuan untuk menjadi bagian dari usahanya ini. Diterima lah seorang perempuan dari Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Padjadjaran yang bernama Fika. Ono menceritakan bagaimana sosok Fika yang mampu memijat tujuh pelanggan perempuan dalam satu hari.
            Ono juga bercerita tentang sulitnya mencari therapist perempuan karena sudah jarang sekali mahasiswi yang ingin memijat orang lain. Lebih banyak mereka yang minta dipijat. Ia mengungkapka bahwa banyak perempuan yang menganggap pekerjaan jasa pijat itu merupakan pekerjaan yang tidak gaul. Begitulah istilah yang ia sampaikan bedasarkan opininya ketika ditanya mengapa hanya satu therapist perempuan yang ikut usaha pijatnya.
            Membuka pendaftaran untuk calon therapist juga tidak sembarangan. Calon therapist yang akan mendaftar pastinya ditanya terlebih dahulu apakah mereka bisa mijat atau tidak. Setelahnya calon therapist mencoba untuk mempertunjukkan keahliannya dalam memijat dan diberi training beberapa hari hingga mereka percaya diri untuk langsung memijat pelanggan.
            Selama menjalani training, setiap calon therapist diajarkan teknik-teknik memijat. Biasanya pendiri usaha pijat ini mempelajarinya melalui mbah google, lalu mempraktikkannya pada tubuh sendiri. Setelah itu, diajarkan pada calon therapist. Sehingga mereka dapat ilmu baru juga dari training tersebut. Ono juga mengatakan, para anggota therapist juga saling berbagi teknik pijat yang mereka punya satu sama lain. Sehingga dapat membantu memperkaya teknik pijat. Tidak hanya itu, teknik pijat terkadang juga ia dapatkan dari pelanggannya sendiri. Ia bercerita saat memijat, pelanggannya sempat mengajarkan teknik baru tentang pijat. Hal tersebut baginya tentu dapat menambah pengetahuan baru yang dapat ia bagikan kepada anggota therapistnya.
            Usahanya untuk mempertebal kantong tidak sampai di situ saja. Inovasi-inovasi lainnya sedang Ono kembangkan untuk melebarkan sayap usahanya ini. Salah satunya menawarkan pijat lulur kepada pelanggan perempuan. Tidak sulit untuk melakukan pijat lulur, gerakannya hampir mirip dengan pijat relaksasi. Namun sayangnya, pijat lulur hanya diperuntukkan bagi perempuan. Ono mengaku tidak paham dengan teknik yang ada pada pijat lulur, lagi pula jarang ada laki-laki yang meminta pijat lulur. Paling hanya satu atau dua orang saja.
Sering Menolak Orderan
            Banjirnya pesanan jasa pijat yang berasal dari mahasiswa membuat Ono dan teman-temannya kewalahan untuk menerima pesanan. Ini menjadi kendala menurutnya dalam memberikan pelayanan untuk para pelanggan. Kurangnya therapist membuat penolakan pesanan sering terjadi, membuat keuntungan pemiliki jasa pijat ini menurun. Ono mengatakan setiap therapist memiliki target enam pelanggan dalam sehari karena tidak ingin mengecewakan pelanggan ketujuh jika orderannya tetap diambil. Alasannya, mengukur juga kapasitas yang dimiliki setiap therapist. Juga takut membuat pelanggan kecewa karena tenaga yang kurang maksimal.
            Penolakan ini membuat beberapa pelanggan bereaksi berbeda, ada yang kecewa dan tidak jadi pesan, ada juga yang mengganti jadwal pijatnya di lain hari. “Pernah ada yang sampai bete karena ditolak, sebenarnya gak enak nolaknya juga, tapi mau gimana lagi sumber daya manusianya sedikit. Kalau banyak juga gak ada yang ditolak,” ujarnya.
            Bagi Ono, uang bukanlah segalanya. Setiap therapist memang memberikan sebagian hasilnya sejumlah lima ribu rupiah kepada sang pemilik. Namun, uang yang telah dikumpulkannya tersebut dikembalikan lagi kepada therapist-nya yang berjumlah tiga orang dalam bentuk makan bersama. Ono tidak hanya ingin usahanya maju, tapi juga ingin menjalin keakraban antara satu therapist dengan therapist lainnya, agar sifat akrab tersebut juga dapat diterapkan kepada para pelanggan.
            Salah seorang pelanggan setia jasa pijat ini juga memberikan kesannya terhadap pelayanan dari therapist-nya. Yosefa Resti ketika ditemui di halte Fakultas Ilmu Komunikasi langsung antusias saat ditanya bagaimana pelayanan yang diberikan oleh jasa pijat tersebut. Ia mengatakan bahwa sejauh ini pelayanan yang diberikan sudah cukup memuaskan.
            “Pelayanan dari jasa pijat in sangat baik, therapist-nya sangat friendly jadi enak bisa diajak ngobrol, mijat-nya juga bisa sesuai yang kita mau kok. Waktu yang diberikan kadang lebih dari biasanya. Pokoknya pijatannya enak banget sampe aku bisa ketiduran,” ungkapnya dengan antusias.

            Usaha pijat ini benar-benar ingin diseriuskan oleh sang pemilik. Ia mengatakan ingin sekali membuka cabang jasa pijatnya di Bandung dengan target yang sama, yaitu mahasiswa. Ono ingin memperkenalkan usaha jasa pijatnya ini kepada mahasiswa-mahasiswa di sekitaran Bandung, seperti di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, hal tersebut masih dalam bentuk pemikirannya saja karena belum tau siapa yang akan mengelola usahanya di Bandung. Sementara, usaha jasa pijat ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang tinggal di Jatinangor dan sekitarnya. (EY)